Tampilkan postingan dengan label Campus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2008

Janji, Seruan Presma UIN

Presma UIN  Beberapa waktu lalu, ketika masih di semester pertama sayapun terkejutlah melihat pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) di Kampus saya, UIN Suska Riau. Para calon Presma - kini lebih ngetop dengan sebutan Ketua Dewan Mahasiswa - kampanyenya bukan main, kalimat-kalimat ajakan dan dukungan dimana-mana, selebaran berserakan, baliho (yang saya bilang poster-poster besar) para Presma dan wakilnya pun terpampang dibeberapa tempat di kampus itu.

Mulanya saya tidak menyangka, teringat dulu ketika ikut mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di MAN 2 Model Pekanbaru, saya hanya menempelkan tiga lembar kopian visi dan misi, itu-pun karena diwajibkan tip Pemilihan Ketua OSIS (Pilkasis). Jika tidak, sama dengan waktu saya ikut pemilihan ketua OSIS di MTs, menyampaikan dari mulut ke mulut bahwa saya ini calon ketua OSIS-pun haram.


Nah, soalnya, awal-awal saya tidak yakin pada pasangan calon Eddi Rusdy - Anggun. Memang Bang Eddi (sapaan akrab pada Eddi Rusydi) kurang meyakinkan bagi saya. Jika tidak jadi si hantu golput-pun waktu itu, saya tidak akan memilihnya walaupun Bang Eddi sejurusan dengan saya (Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris).

Eh, tahu-tahunya dia menang. Sebagai jurnalis saya publikasikan hal ini di Xpresi. Sejak wawancara pertama itu, yang mungkin membuat saya terkesan, akrablah kami. Pada suatu ketika pemilihan Senat Mahasiswa tiba juga (saya lagi-lagi Golput), masa itu Bang Eddi, Presiden Mahasiswa UIN Suska Riau, bertanya:

Presma: Hendrawan nggak ikut BEM Fakultas (Senat)?
Hendrawan: Kayaknya nggak ada diajak-ajak do bang
Presma: Kenapa gitu?
Hendrawan: Entahlah, tapi saya kemaren mau coba melamar di BEM Universitas tapi dah tutup, apa pasal cepat betul?
Presma: Oh.. Hendra besok di Fakultas ni aja (setelah ini kami-pun masuk sesi wawancara antara wartawan dan narasumbernya).

Bisa ditangkap dari dialog kami diatas Bang Eddi telah berjanji, tapi saya bertanya-tanya dalam hati mengapa kok di Fakultas saya mau dimasukkan, saya-kan mau di Universitas, yang lebih tinggi dan cakupannya lebih luas (he..3x). Ternyata mahasiswa yang semester 1 seperti saya belum bisa, walaupun sudah rajin berorganisasi di SMA. Fakta terpenting adalah: organisasi kemahasiswaan beda dengan siswa di SMA.

Saya mulai sering di-sms Presma apabila ada kegiatan dan aktivitas sesuai dengan permintaan saya, agar mudah diliput. Tapi akhir-akhir ini sms-sms - atau lebih tepat jika saya bilang itu orasi, seruan - jarang datang. Barulah pada Jumat, 21 November 2008 yang bertepatan dengan pelantikan Gubernur Riau 2008-2013, saya kembali dikirimi sms. Berikut kutipan langsungnya tampa sensor:

''Aslm.. Jum'at, 21 nov08 mnjadi hari brsjarah bg masa dpn Riau, 5 thn kdpn nsibnya akan dtentukan oleh pmimpin baru negeri ini.. Akankah kita brdiam diri tnpa peduli dg janji2 kmpanye mrka? Ikuti..Aksi Pressure Plantikan Gubenur pgi ini jam 08.45 .....''

Saya jadi merinding, inilah darah aktivis yang sebenarnya, diperlihatkan oleh seorang Presiden Mahasiswa dari Riau, hanya melalui sms, bagaimana jika saya mendengar orasinya yang berapi-api di tengah teriknya panas kota Pekanbaru??.

Seperti saya katakan sebelumnya, Hendrawan itu Mahasiswa Anti Demo, jadi mohon maaf jika saya lebih memilih masuk pelajaran Structure III bersama Mr.Rivi Antoni pagi lalu itu. Selamat berjuang Presma, saya mendukung dari media!

Jumat, 19 September 2008

Dipanggil Abang - Hendrawan Backs to Campus

Tak terasa, sudah setahun jadi Mahasiswa. Kini sudah semester tiga, entah apa yang terjadi mahasiswa baru kini telah hadir dan ikut memadati kampus kami. Terjadilah pembicaraan sewaktu pagi (Senin, 15/9 saya kuliah di kampus pusat ketika gerimis datang) antara saya dan dua orang Mahasiswa baru, satu agak kerenan dikit yang satu kayaknya pendakwah (pake peci dan jenggotan).

Yang "seperti pendakwah" hanya diam setelah mereka berdua turun dari motor. Lalu "si kerenan" dikit mulanya senyum terus dia ikut bingung seperti saya (udah jam 8 Pagi kok nggak ada orang?).
Memang Kampus pusat kami ini penghuninya udah pindah semua. Untuk memecah kebengongan dia bertanya:

Si kerenan dikit: Bang, dimana tempat kuliahnya (sambil memandangi saya yang udah mau pulang, dosen masih di luar negeri)

Hendrawan: Ada jadwal nggak hari ini (to the point, dan berwibawa yang dibuat2, sambil mikir: orang ini kelihatan lebih tua kok manggil abang)

Si kerenan dikit: .... (masih bengong sambil bisik-bisik dengan "yang seperti pendakwah")

Hendrawan: Kalau ada jadwal berarti ada (tambah saya lagi, siap-siap mau pergi)

Si kerenan dikit: Katanya pagi (lho, kok katanya?)

Hendrawan: Tunggu aja (gw kerjain ni bocah, sambil pergi ke parkiran)

Sudah saya tebak dua ini adalah semester pertama alias Mahasiswa baru. Aduh tak terasa saya sudah mulai tua di Kampus itu, atau saya kelihatan lebih tua ya?. Kata beberapa orang yang sirik (menurut saya anggapan mereka) saya ini bertampang boros. Apa iya sayakan sudah 20 tahun, yang jelas saya sudah semester tiga sekarang. Do'ain IPK-ku naik semester ini ya.

Jumat, 11 Juli 2008

Hendrawan (mungkin) Mahasiswa Anti Demo

Dengan tidak bermaksud memasukkan diri dalam jajaran Mahasiswa anti demo, Hendrawan adalah seorang mahasiswa yang tidak suka dengan aksi demonstrasi dan tidak suka ikut berkecimpung di dalamnya. Terutama tentang isu kenaikan BBM.

Sebagai penulis "Menyampaikan aspirasi melalui tulisan jauh lebih menghilangkan dahaga dari ketidakpuasan itu." Mungkin saya dan teman-teman bisa saja tergabung dalam aksi demo menentang kebijakan yang tak populis itu ketika sebagian aktivis kampus mengajak kami.

Suatu ketika saya menerima SMS dari Presiden Mahasiswa kampus saya (UIN Riau) yang isinya begini:
"Keputusan pemerintahan SBY-JK yang tidak populis betul-betul melukai hati rakyat......." seketika SMS Presma yang baru dilantik beberapa minggu yang lewat ini sempat memancing saya untuk ikut aksi demo.

Tapi saya kira sebagai penulis Hendrawan sudah puas protes lewat tulisan, toh habis tenaga dan panas-panasan di tengah jalan pemerintah tetap tidak bergeming. Jika ditulis, tulisannya mingkin masih dibaca orang hingga tiga tahun ke depan tapi, jika demo apa ada yang (mau) melihat?, paling ditayangkan di TV beberapa kali dan setelah itu terlupakan.

Senin, 23 Juni 2008

Hari Empat (4) Buah Ujian

Tolong Hari ini aku harus menghadapi empat buah ujian mata kuliah (tapi masih sempat-sempatnya posting), mana ujiannya payah-payah:( dan penuh persyaratan lagi. Tolong....:((


Bayangkan, hari ini pukul 8.00 WIB ada ujian speacking (aku tidak ada persiapan) terus musti buat makalah tentang outdoor (ingat Hendrawan Goes to West Sumatra). Pukul 01.00 WIB nanti ada ujian Aqidah Islam (esai semua, sementara hafalan udah pada lupa) terus harus pake baju kurung dan pena bertinta biru.

Menyusul setelah itu ujian Qiro'ah (udah jadi anak kuliahan masih aja pelajaran baca Al-Qur'an) terus nanti ditanya-tanya pula tentang hukum-hukum bacaannya sama dosen juara MTQ Kab Siak ini.

Terakhir sekitar pukul 16.00 WIb masih ada ujian Reading (mana tugas banyak nggak dikerjain) tuolong Hendrawan woi..:(

Rabu, 11 Juni 2008

Mengapa Hendrawan Senang Ke Sumbar?

Rasa senang ketika pertama kali tiba di Batam beberapa waktu lalu ternayata tak bisa mengalahkan rasa senang saya ketika mengunjungi Sumatra Barat, padahal di Batam banyak orang Melayu (suku ibu saya) dan saya tidak ada sangkut pautnya dengan orang Sumbar (minang). Mengapa sayan lebih senang ke Sumbar?


- Pertama, saya sangat mahir bahasa minang (mengalahkan kemahiran saya berbahasa jawa, bahasa Bapak saya dan juga kemahiran saya berbahasa ocu)
- Saya sedikit banyak saya mengenal mitologi dan budaya minang
- Saya menemukan bukit-bukit yang tinggi serta gunung-gunung yang tidak saya temui di Kampung saya (Penyalai, di Penyalai hanya ada laut, pantai, hutan dan hewan liar)
- Hawanya lebih sejuk (khusus Bukittingi dan Lubuk Sikaping tak seperti di Pekanbaru yang panas)
- Tentu saja karena harga kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau (pengecualian pada harga nasi yang Rp 10.000-12.000 sementara di Riau hanya Rp 7.000-8.000 saja)

Tetapi ada juga yang tidak saya sukai ketika mengunjungi Sumbar, apa?:
- Terlalu banyak pengamen
- Harga kedai nasi mahal
- Banyak penjaja jalanan yang masuk bus
- Sering terjadi tanah longsor di tengah perjalanan yang membuat macet berjam-jam.

Jumat, 30 Mei 2008

Hendrawan Goes to West Sumatra

Setelah hampir lima tahun lebih tidak ke Sumatra Barat kesempatan itu akhirnya datang juga. Hari ini, Jum'at (31/5) saya, Hendrawan akan pergi ke ranah minang itu lagi.

Kepergian kali ini sebenarnya bukanlah pergi bertamasya atau sekedar kunjungan wisata. Kami - Hendrawan and friends - Mahasiswa semester dua Pendidikan Bahasa Inggris (English Students) UIN Suska Riau akan mengadakan perjalanan ke Bukittinggi dan Padang dalam rangka "increasing english skill".
Jadi, mulai berangkat sore hari (Jum'at) hingga kembali lagi di Pekanbaru - Riau pada Senin (3/6) besok kami diwajibkan speak english all the time, asyik juga kali ya.

Sumatra Barat bukanlah tempat asing bagi Hendrawan karena saya sangat familiar dengan bahasanya, orang-orangnya, adat dan budayanya serta juga tidak asing terhadap beberapa tempatnya. Sebut saja tempat yang pernah saya kunjungi : Sawahlunto, Bukittingi, Padang, Lubuk Sikaping, Rao sudah pernah saya jambangi. Yang Hendrawan tunggu-tunggu sebenarnya ke Sumbar nanti adalah lagu minangnya yang mendayu-dayu.

Nah, teman-teman yang kebetulan tersesat di blog ini do'ain Hendrawan selamat di perjalanan ya. Oleh-olehnya apa?, ada deh bagi teman-teman yang do'ain tenang aja... (he...3x) pokokke saksikan terus Hendrawan Goes To West Sumatra-nya ya!.


Sabtu, 05 April 2008

Hal Tak Biasa di Kampus UIN Suska

Hari ini, Rabu (2/4) Dosen Bahasa Arab UIN Suska Riau yang menguliahi kami di lokal PB 25 mengenakan pakaian santai, cuma pakai kaos oblong, lucu saja melihatnya.
Memang kalau ditilik lebih dalam mengenai kode etik Dosen UIN Suska Riau memang tidak dibenarkan dan bukanlah suatu keetisan hal yang dilakukan dosen kami yang bernama Masnawi ini. Tetapi dibalik itu semua Beliau adalah dosen yang baik dan sopan, lantas kenapa?. Oh, setelah mendengar penjelasan beliau sekitar 20 menit sedari pukul 11.10 WIB, ternyata Beliau dapat musibah! (nggak mungkin dong Dosen UIN menyanyah).



Ceritanya begini, istri Ustadz Masnawi ini kehilangan dompet yang didalamnya terdapat dua buah ATM BNI miliknya dan milik neneknya. Terang saja Dosen muda ini kalang kabut dan cepat-cepat melaporkannya ke BNI agar kedua ATM itu diblokir. Sampai-sampai Beliau tak sempat tukar pakaian setibanya di UIN karena takut telat (o.. iya dong!, dosen UIN kan on time). Padahal. baju untukproses perkuliahan sudah dibawanya ke kampus.


Menurutnya, ini disebabkan oleh urusan berbelit yang dialaminya di BNI (tidak bermaksud mendiskreditkan) terhadap pengatasnamaan ATM neneknya. Yah, walaupun Dosen Beliau tetap meminta izin terlebih dahulu kepada kami untuk mengenakan kaos oblong dalam proeses perkuliahan. Kami ok!, ya lanjut kuliah.